Tuntunan Doa untuk Bayi Baru Lahir Agar Terhindar dari Gangguan Setan

Doa untuk bayi baru lahir – Religi dan spiritualitas secara naluriah memang melekat dalam kehidupan manusia. Apalagi dalam agama Islam yang menuntun manusia agar selalu mengingat Allah dalam kondisi apapun. Termasuk di dalamnya, adalah tuntunan doa untuk bayi baru lahir.

Dalam peristiwa kecil saja seperti melangkah ke kamar kecil, bepergian, makan minum, semua ada tuntunannya berupa doa dan adab. Terlebih lagi peristiwa yang dianggap sangat berarti dalam hidup manusia, yakni lahirnya sang buah hati.

Tentunya Islam juga sangat memperhatikan hal tersebut. Peristiwa dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala mengamanahkan bayi suci kepada hambanya yang ditakdirkan menjadi orang tua.

Maka seyogyanya bagi para orang tua, jangan sekedar merasa gembira saja, tapi juga harus mengingat ada Allah dibalik peristiwa.

“…Dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Allah mengetahuinya (pula), dan tak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak ada sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan telah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [ 6 :59]

Ketika mengingat Allah-lah yang menentukan semuanya, hati akan tertuntun untuk bersyukur atas karunia. Wujud syukur paling nyata adalah mengemban amanah sebagai orang tua dengan sebaik-baiknya, yang sesuai Qur’an, teladan nabi, atsar sahabat, dan juga petuah para ulama.

Doa Bersanding dengan Amalan Lainnya

doa untuk bayi baru lahir

Maka betul ungkapan banyak orang dan juga para ulama, anak itu amanah. Imam Al Ghazali menjelaskan hal ini dalam kitab Ihya Ulumuddin:

“Seorang anak ialah amanah di pundak kedua orang tuanya, dan hati anak yang masih bersih merupakan berlian yang berharga yang masih kosong dari pahatan dan gambaran, sehingga ia dapat menerima semua gambaran yang dilukiskan padanya, dan cenderung kepada kecenderungan pihak yang mengarahkannya.”

Amanah itu bahkan dituntut sudah dilakukan semenjak bayi baru lahir. Tujuannya agar bayi yang masih suci itu sudah tersentuh dengan adab-adab Islami mulai dari awal dia mengenal lingkungan baru.

Ada beberapa amalan sunnah yang dicontohkan dan diajarkan Nabi untuk dilakukan saat kelahiran bayi. Contohnya seperti azan, tahnik, memberi nama (tasmiyah), mencukur rambut bayi, bersedekah, dan aqiqah.

Hal-hal tersebut sudah banyak diamalkan oleh umat muslim, bahkan sudah mentradisi dalam budaya masyarakat. Sayangnya ketika amalan menjadi tradisi, terkadang pengamalannya cenderung miskin penghayatan ilahiyah, atau sekedar formalitas budaya.

Itulah mengapa pentingnya ada tuntunan berdoa yang dilakukan setelah kelahiran bayi. Agar orang tua secara pribadi langsung “online” dengan Allah sebelum melakukan hal lainnya, bahkan sebelum amalan sunnah lainnya.

Mengapa begitu? Karena amalan lain kadang bersifat sosial, tidak lagi murni privat antara hamba dengan Tuhannya. Sedangkan doa merupakan hubungan langsung hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (habluminallah).

Sama seperti shalat yang merupakan bentuk tertinggi dari doa, kita berhadapan langsung dengan Allah untuk bermunajat kepada-Nya.

Ambil contoh amalan azan kepada bayi, tujuannya agar bayi terhindar dari gangguan setan. Hadits dari Hasan bin Ali ra. Menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Barangsiapa yang dilahirkan baginya seorang anak, kemudian dia mengazankan di telinganya yang kanan dan mengikamahkan di telinganya yang kiri, maka Jin Ummu Shibyan (setan) tidak akan dapat membahayakannya.”

Artinya tujuan azan lebih beraspek sosial, yakni hubungan ayah yang berusaha melindungi anaknya. Sama dengan amalan lainnya, seperti aqiqah, tahnik, sedekah, mencukur rambut, semuanya lebih cenderung pada aspek sosial atau formalitas budaya.

Maka menjadi penting untuk membungkus amalan-amalan sunnah di atas dengan doa-doa, serta tak lupa juga dengan niat yang ikhlas. Pada bab doa ini yang akan kita kupas lebih lanjut.

Seputar Lafaz dan Adab Berdoa

doa untuk bayi baru lahir

Sebelum masuk pada bacaan/lafaz doa-doa yang dilakukan saat momen kelahiran bayi, perlu diketahui bahwa pada dasarnya doa tidak harus dengan lafaz tertentu atau harus bahasa arab.

Secara etimologi atau bahasa, doa berasal dari bahasa arab, yakni ad-du’a. Makna dan penggunaan kata ad-du’a bisa bermacam-macam, seperti permohonan, panggilan, permintaan tolong, dll.

Lebih dalam lagi ulama mengartikan ad-du’a adalah ketika seseorang condong pada sesuatu dengan suara atau kalimat sendiri. Secara syariat lalu kecondongan itu di arahkan kepada yang maha tinggi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Berdasarkan pengertian di atas, artinya doa sangat privasi yang secara sadar disuarakan atau dikalimatkan dengan “bahasa” sendiri, tanpa dibatasi teks-teks tertentu. Yang terpenting lafaz doa tidak mengandung keharaman dan bisa dipahami.

Bukankan lebih terhayati jika lafaz doa telah kita ketahui maknanya? Tentu saja Allah maha mengetahui semua bahasa makhluknya. Maka adanya tuntunan lafaz doa bukan bermaksud membatasi, atau lebih parah lagi jika sampai membid’ahkan.

Ibarat makanan, makanan yang sudah tersaji oleh koki hebat tentu lebih terasa enak dan mudah ketimbang kita harus memasak sendiri.

Begitu juga dengan doa, jika sudah ada lafaznya langsung dari Al-Qur’an, Hadits Nabi, atsar sahabat, dan petuah ulama, tentu saja lebih afdhol dan mantap ketimbang kita harus merangkai bahasa sendiri.

Namun kembali lagi, walaupun kita berdoa menggunakan lafaz dari Al-Qur’an dan Hadits, tapi hati kita lalai dengan makna permohonannya, maka doa itu menjadi tak bernilai. Karena hakikatnya doa adalah amalan hati.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Hati adalah sebuah bejana, dan sebagiannya lebih mampu memuat daripada sebagian yang lain. Wahai manusia, jika kalian memohon kepada Allah ‘azza wajalla maka mohonlah kepada-Nya dengan keyakinan bahwa permohonan itu bakal dikabulkan karena sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan mengabulkan do’a seorang hamba yang dipanjatkan dari hati yang lalai.” (H.R. Ahmad)

Lalai juga bisa dikaitkan dengan ucapan doa yang tercampur dengan riya’. Maka itu ucapan doa lebih afdal jika dibaca secara sirr (dipelankan) untuk menghindari riya’. Kecuali jika ada momen khusus seperti doa berjamaah atau ada lafaz doa yang memang untuk diperdengarkan.

Lafaz Doa Kelahiran Bayi Sesuai Tujuannya

doa untuk bayi baru lahir

Dalam pembahasan lafaz doa untuk bayi yang baru lahir, kita bisa membaginya sesuai dengan tujuan dan momennya. Sesuai tujuannya, berarti untuk tujuan apa doa itu dilakukan? Misal untuk keberkahan bayi, untuk melindungi bayi dari setan, atau yang lainnya.

Sesuai momennya, berarti dalam momen dan amalan seperti apa doa itu dipanjatkan Apakah saat momen mencukur rambut, sedekah atau momen seperti apa? Kita akan mengulasnya lebih lanjut.

Kita awali dengan pembahasan tentang lafaz doa yang sesuai dengan tujuannya. Ada beberapa lafaz doa dengan tujuan yang berbeda.

1. Doa bertujuan untuk keberkahan bayi.

Doa untuk keberkahan bayi artinya permohonan agar Allah senantiasa memberikan dan melipatkan kebaikan dan nikmat kepada bayi, mulai dari lahir, dewasa sampai dengan ajalnya.

Lafaz yang pertama adalah merupakan atsar dari seorang imam besar generasi tabi’in. Diriwayatkan dari Ayyub as-Sikhtiyani, bahwa Hasan Al Bashri ketika mendengar tetangganya yang baru melahirkan, beliau mendoakan,

جَعَلَهُ اللهُ مُبَارَكًا عَلَيكَ وَعَلَى أُمَّةِ مُحَمَّدٍ – صلى الله عليه وسلم

Ja’alallahu mubaarakan ‘alayka wa ‘alaa muhammad shalallahu ‘alayhi wa sallam.

“Semoga Allah menjadikannya anak yang diberkahi untukmu dan untuk umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Lafaz yang kedua merupakan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam Musnadnya (no. 7310). Sanadnya dinilai shahih oleh al-Haitsami dalam kitab Majma’ az-Zawaid.

Hadits ini berkisah tentang sahabat Abu Thalhah dan istrinya Ummu Sulaim. Abu Thalhah merasa gundah dengan meninggalnya putra tercinta, ditambah istrinya yang tidak segera memberitahu tentang kabar duka itu.

Abu Thalhah puh mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga Rasul mendoakan keberkahan keduanya agar lekas dikaruniai anak. Dan betul, sembilan bulan setelahnya Ummu Sulaim melahirkan seorang anak lelaki.

Baginda Nabi pun berpesan agar segera membawa bayi itu kepadanya, untuk di tahnik dan di doakan. Begini redaksi doa nabi,

بَارَكَ اللَّهُ لَكِ فِيهِ، وَجَعَلَهُ بَرًّا تَقِيًّا

Barakallahu laka fiihi wa ja’alahu barratan taqiyyan.

“Semoga Allah memberkahi anak ini untukmu dan menjadikannya orang baik yang bertaqwa”.

2. Doa agar bayi terhindar dari gangguan setan dan gangguan lainnya

Adanya doa ini menegaskan bahwa setan akan selalu menggoda manusia bahkan dari semenjak dari kelahirannya. Baginda Rasul bersabda,

“Setiap bayi dari anak keturunan adam akan ditusuk dengan tangan setan ketika dia dilahirkan, sehingga dia berteriak menangis, karena disentuh setan. Selain Maryam dan putranya.” (HR. Bukhari 3431).

Berkaitan dengan hadits di atas, alasan mengapa kelahiran maryam dan putranya Isa As tidak diganggu setan adalah karena dikabulkannya doa dari istri Imran atau ibunya Maryam. Doa itu tertuang dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 36.

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Falammaa wadha’athaa qaalat rabbi innii wadha’tuhaa untsa wallahu a’lamu bimaa wadha’at walaisadz-dzakaru kal antsa wa-innii sammaituhaa maryama wa-innii u’iidzuhaa bika wadzurrii-yatahaa minasy-syaithaanirrajiim.

Tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” (QS. Ali Imran: 36).

Doa dari istri Imran ini lalu dianjurkan oleh para ulama untuk diamalkan oleh umat Islam, karena tentu doa yang berasal dari Qur’an adalah yang utama, selain juga doa ini sudah terbukti mustajab dari sisi sejarah.

Redaksi yang digunakan juga disesuaikan karena doanya bukan lagi untuk Maryam, tapi untuk kelahiran bayi secara umum. Yang digunakan adalah kalimat akhir karena sesuai dengan konteks menghindari gangguan setan.

Lafaz pertama untuk bayi perempuan:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Allahumma innii u’iidzuhaa bika wadzurrii-yatahaa minasy-syaithaanirrajiim

“Aku mohon perlindungan untuknya (bayi perempuan) serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.”

Lafaz kedua untuk bayi laki-laki:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أُعِيذُهُ بِكَ وَذُرِّيَّتَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Allahumma innii u ‘iidzuhu bika wadzurrii-yatahu minasy-syaithonirrajiim

“Aku mohon perlindungan untuknya (bayi lelaki) serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.”

Lafaz ketiga adalah doa yang bersumber dari doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada cucunya Hasan dan Husein. Ibnu Abbas bercerita, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membacakan doa perlindungan bagi kedua cucunya itu,

أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

U’iidzukuma bi kalimatillahit tammah min kulli syaithanin wa hammah wa min kulli ‘ainin lammah.

“Aku memohon perlindungan kepada Allah bagi kamu berdua, dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari segala gangguan setan, binatang berbisa dan pandangan mata yang jahat.” (HR. At Tirmidzi no. 2060)

Redaksi di atas dalam konteks dua anak laki-laki, maka disesuaikan untuk anak tunggal, ganda atau jamak dan juga jenis kelamin bayi.

Jika bayi yang dilahirkan perempuan tunggal, maka dibaca,

أُعِيذُكِ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

U’iidzuki bi kalimatillahit tammah min kulli syaithanin wa hammah wa min kulli ‘ainin lammah.

Jika bayi yang lahir laki-laki tunggal, maka dibaca,

أُعِيذُكَ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

U’iidzuka bi kalimatillahit tammah min kulli syaithanin wa hammah wa min kulli ‘ainin lammah.

3. Doa untuk orang tua bayi

Selain doa kepada bayi, ada juga lafaz yang ditujukan untuk orang tua bayi. Doa ini penting karena orang tualah yang akan mengampu amanah pendidikan dan pengasuhan bayi.
Selain itu doa untuk orang tua adalah media untuk menyambung silahturahim saat kita menengok kelahiran saudara dan kerabat.

Lafaz yang pertama berasal dari Atsar tabi’in Hasan al-Bashri. Dari al-Haitsam bin Jammar, ada seseorang yang bertanya kepada Hasan al-Bashri, ‘Bolehkah menggunakan ucapan orang persia untuk doa ketika kelahiran anak?’

Lalu beliau menjawab, ”mengapa kau gunakan ucapan orang persia? Bisa jadi doanya jadilah sapi atau himar, ucapkanlah…” (kemudia diucapkan lafaz doa berikut ini)

بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي المَوهُوبِ لَكَ , وَشَكَرْتَ الوَاهِبَ , وَبَلَغَ أَشُدَّهُ , وَرُزِقْتَ بِرَّهُ

Barakallahu laka fil mauhuubi laka, wa syakartal waahiba, wa balagha asyuddahu, wa ruziqta birrahu.

“Semoga Allah memberkahi anak yang dianugerahkan kepadamu, semoga kamu bisa mensyukuri Sang Pemberi (Allah), semoga cepat besar dan dewasa, dan engkau mendapatkan baktinya si anak.”

Lafaz yang kedua kita bisa menggunakan doa sebelumnya dari riwayat Ayyub as-Sikhtiyan yang berkaitan dengan doa keberkahan untuk bayi. Namun redaksinya juga mengandung doa untuk orang tua.

جَعَلَهُ اللهُ مُبَارَكًا عَلَيكَ

Ja’alallahu mubaarakan ‘alayka.

“Semoga Allah menjadikannya anak yang diberkahi untukmu.”

Lafaz Doa Kelahiran Bayi Sesuai Momen dan Amalannya

doa untuk bayi baru lahir

Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa setelah kelahiran bayi ada momen dan amalan tertentu yang bisa disandingkan dengan doa-doa. Berikut adalah lafaz doa yang bisa disandingkan dengan momen dan amalan dalam kelahiran bayi.

1. Doa Setelah Azan dan Ikamah Bayi

Sudahlah jelas bahwa azan dan ikamah amalan yang disunnahkan untuk dilakukan kepada bayi yang baru lahir. Tujuannya seperti yang dijelaskan dalam hadits riwayat Abu Ya’la untuk menghindari gangguan setan.
Tujuan lainnya seperti dalam Hadits Riwayat Al Hakim, agar kalimat tauhid dalam azan menjadi kalimat pertama yang mereka bayi dengarkan.

Setelah amalan azan dan ikamah ini, para ulama menganjurkan untuk melanjutkan dengan membaca doa. Redaksinya sama seperti hadits yang sudah ditulis sebelumnya, hadits riwayat At Tirmidzi dari Ibnu Abbas.

أُعِيذُكَ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

U’iidzuka bi kalimatillahit tammah min kulli syaithanin wa hammah wa min kulli ‘ainin lammah.

Selain doa di atas, ulama besar Syeikh Ibrahim Al Baijuri dalam kitabnya Hasyiah Fathul Qorib juga menganjurkan untuk membaca surat Al Qadr setelah azan dan ikamah. Faidah surat Al Qadr disebutkan agar anak terhindar dari zina ketika dewasa.

2. Doa Setelah Mencukur Rambut Bayi

Mencukur rambut bayi merupakan amalan sunah yang berasal dari banyak riwayat. Ada riwayat dari Turmudzi, Nasai, Abu Daud, Ibnu Abi Syaibah, dan al-Hakim. Jadi cukup jelas derajatnya.

Amalan ini sebetulnya satu rangkaian dengan sedekah, baik dalam teks hadits maupun pada prakteknya. Disebutkan bahwa setelah mencukur rambut bayi, disunnakan untuk bersedekah perak seberat rambut yang dicukur.

Sedangkan doa yang dibaca saat mencukur rambut bayi yang baru lahir, sama dengan doa sebelumnya, yakni doa istri Imran kepada anaknya Maryam.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أُعِيذُهُ بِكَ وَذُرِّيَّتَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Allahumma innii u ‘iidzuhu bika wadzurrii-yatahu minasy-syaithonirrajiim

3. Doa dalam Walimatul Akikah

Doa dalam walimatul Akikah ada 2 lafaz doa yang masyhur dan sering diamalkan saat menyembelih hewan Akikah. Lafaz yang paling mudah dan pendek dengan membaca,
بسم الله، اللهم لك وإليك عقيقة
Allahumma laka wa ilaika hadzihi ‘aqiqatu (sebut nama)

Ya Allah! Untuk-Mu dan kepada-Mu ini adalah ‘akikahnya si fulan.

Lafaz doa yang lain,
بِسْمِ اللهِ وَبِاللهِ، اَللَّهُمَّ عَقِيْقَةٌ عَنْ فُلاَنِ بْنِ فُلاَن لَحْمُهَا بِلَحْمِهِ وَعَظْمُهَا بِعَظْمِهِ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا وِقَآءً لآلِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ وَآلِهِ السَّلاَمُ

Bismillâhi wa billâhi, Allâhumma `aqîqatun `an (sebut nama), lahmuhâ bilahmihi wa `azhmuhâ bi`azhmihi. Allâhummaj`alhâ wiqâan liâli Muhammadin `alayhi wa âlihis salâm.

Dengan nama Allah dan dengan Allah, akikah ini dari fulan bin fulan, dagingnya dengan dagingnya, tulangnya dengan tulangnya. Ya Allah, jadikan akikah ini sebagai tanda kesetiaan kepada keluarga Muhammad saw.

4. Doa Saat Memberi Nama Bayi (Tasmiyah)

Tasmiyah atau pelaksanaan pemberian nama tak bisa lepas dari doa. Pemberian namanya dengan doa, dan arti namanya juga merupakan doa. Pemberian nama bisa dilakukan tanpa walimah (upacara) ataupun dengan walimah.

Jika tanpa walimah, maka lafaz doa di bawah ini dibaca sendiri,

“Allahumaj’alna haadzal ismi mubaarakal lahu fiiman khafaka wattaqaka, waj’allahu bil waalidaini ihsaana.Allahumma thawwil ‘umurahu fii thaa ‘atika shahhih ajsaadahu. Allahummaj’alahu za’iiman fi kabirihi, wa tsabbit immanahu ‘alaa balaa ik.”

“Ya Allah, jadikanlah nama ini memberi berkah baginya, menjadi anak yang takwa kepada Allah serta dapat berbakti kepada ibu bapaknya. Ya Allah, panjangkanlah umurnya dalam mentaati agama Engkau, sehatkanlah tubuhnya. Jadikanlah dia sebagai pemimpin setelah dewasa, dan tetapkanlah imannya menghadapi cobaan dunia serta akhirat.”

Jika dengan walimah dan mengundang jamaah, maka paling sesuai dengan menggunakan lafaz doa dari kitab Maulid Al Barzanji. Saat itulah bayi dinamai dan didoakan ditengah-tengah majelis.

5. Doa Saat Melakukan Tahnik

Tahnik adalan amalan yang pernah dicontohkan Rasulullah, yakni memberi makan kurma yang telah dikunyah lalu dimasukkan ke dalam mulut bayi. Amalan ini termasuk yang disunahkan untuk dilakukan orang tua ketika mendapati kelahiran anaknya.

Dalam prosesi tahnik, sangat dianjurkan untuk membaca doa untuk keberkahan sang bayi. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa hakikat tahnik sendiri adalah doa.
Lafaz doa yang diajarkan Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah cukup sederhana. Cukup membaca “Baarakallahu fiihi (semoga berkah Allah diberikan untuknya)”, atau “Allahumma baarik fiihi (Ya Allah, berkahilah dia).”

Kesimpulan

Doa sebetulnya dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun, tidak terikat dalil (kecuali yang diharamkan). Namun jika ada nash yang berkaitan tentang doa, berarti ada kekhususan agar kita mengutamakan doa tersebut. Salah satunya adalah doa saat kelahiran bayi.

Namun dari semua doa yang berkaitan dengan kelahiran bayi, tidak banyak lafaz yang bersumber langsung dari Alquran dan Sunah. Maka urutannya yang diutamakan adalah Atsar para salaf, perkataan dari para imamnya ulama, dan terakhir baru rangkaian kata dari kita sendiri untuk menjadi doa.

Seperti apapun lafaznya, yang terpenting adalah ketulusan dan keyakinan yang dalam akan doa tersebut, bahwa Allah pasti akan mengabulkan doa hambanya. Dan doa yang terpenting bagi orang tua adalah permohonan agar anaknya selalu mendapat kebaikan.

Mungkin manfaat tentang keberkahan dan kebaikan dari doa kepada sang buah hati terlalu abstrak untuk bisa dirasakan sekarang. Namun sebagai orang yang beriman, tentu kita sangat percaya bahwa manfaat doa untuk bayi baru lahir pasti akan didapatkan.

  • Add Your Comment